Merayakan Peminggiran Pangan Lokal

Jumat, 23 April 2021
Bila Anda ingin mencicipi suguhan aneka pangan lokal asli seperti ubi, singkong, pisang rebus, wedang jahe, jamu, atau pun yang sudah diolah seperti pisang goreng, kue lepet, nagasari, bolu pisang, kue talam, dll, jangan pernah bermimpi bisa mudah ditemukan di gerai-gerai yang menjual makanan dan minuman (mamin) di pusat-pusat perbelanjaan modern seperti mal. Pangan lokal asli seperti itu bisa Anda temukan di gerobak dorong yang dijual para pedagang keliling. Atau paling banter hanya mengisi gerobak-gerobak penjaja makanan yang berderet di amigos (agak minggir got sedikit).
Di Metropolitan Mall Bekasi misalnya, dari 50 lebih gerai yang menjajakan mamin, hanya tiga gerai yang menjual beberapa jenis mamin berbahan pangan lokal. Itu pun sudah dimodifikasi dan bercita rasa asing. Selebihnya mamin yang bercita rasa dan bermerek dagang asing seperti Amerika, Eropa, dan Jepang.
Tak berbeda jauh di Sumarecon Mall Bekasi. Dari 120 lebih gerai yang menjual mamin, tidak sampai 20 persen gerai yang menjajakan mamin bercita rasa dan berbahan pangan lokal. Sementara selebihnya menjual mamin dari negeri seberang.
Pasar HPS
Dalam rangka peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2019 Keuskkupan Agung Jakarta (KAJ) mengajak umat untuk mencintai pangan lokal. Untuk menjawab ajakan tersebut, Paroki Kranji St. Mikael, Minggu (27/10), menggelar kegiatan Pasar HPS di halaman parkir motor. Pasar HPS ini merupakan kerja sama PSE, WKRI, Seksi Lingkungan Hidup, dan Komsos. Semua Wilayah di Paroki Kranji ambil bagian. Setiap Wilayah menyediakan makanan atau minuman yang diolah dari satu jenis bahan pangan lokal.
Wilayah St. Antonius Padua misalnya, mengolah tepung beras menjadi bubur sumsum dan nagasari. Wilayah St.Ursula mengolah tepung beras menjadi kue serabi dan nagasari. Sedangkan Wilayah St. Bernadeth mengolah jagung menjadi jasuke. Sementara Wilayah St. Agustinus mengolah singkong menjadi kue sawut, mata kebo, dan koplo gondir. Wilayah St. Vincentius mengolah singkong dan pisang menjadi kue bolu pisang dan mata sapi. Dan Wilayah St. Sisilia mengolah ubi dan sagu menjadi kue talam.
Pasar HPS dibuka setelah misa kedua. Ratusan umat langsung menyerbu stan-stan yang tersedia. Harga murah dan ingin mencicipi rasa mamin berbahan pangan lokal membuat umat ‘kalap’ mendatangi semua stan. Hanya dalam waktu setengah jam semua mamin ludes dibeli umat.
Pasar HPS digelar agar mamin berbahan pangan lokal mendapat tempat di hati umat. Selain itu, untuk
mengajak generasi muda agar mulai mencintai mamin hasil olahan pangan lokal. Selain menikmati aneka suguhan pangan lokal, umat juga bisa bergaya di arena photo booth yang dihiasi berbagai
jenis hasil panen dari kebun petani dan pernak-pernik pendukung kerja petani seperti sepeda onthel dan caping.
Dukung Karya Misi SVD
Untuk membeli mamin, panitia menjual kupon seharga Rp 2000. Menurut Ketua WKRI Cabang Kranji Elisabeth Sudarmi, panitia sengaja menjual kupon murah agar umat lebih banyak yang ikut berpartisipasi dalam mendukung Karya Misi SVD. “Hasil penjualan makanan dan minuman di Pasar HPS ini akan disumbangkan untuk mendukung Karya Misi SVD,” kata Mbak Elly.
Setelah ditutup sekitar pukul 10.45 WIB, semua Wilayah menyetorkan hasil penjualan ke meja panitia. Dari hasil penjualan kupon mamin terkumpul uang sebesar Rp 4.876.000. Selain hasil penjualan mamin, yang disumbangkan ke Karya Misi SVD adalah donasi dari Wilayah St. Mateus sebesar Rp 152.000, Wilayah St. Yohanes de Brito Rp 165.000, donasi NN sebesar Rp 304.000, dan donasi foto Rp 400.000. Sehingga total sumbangan yang diberikan untuk Karya Misi SVD sebesar Rp 5.896.000. Sumbangan umat untuk Karya Misi SVD telah diterima Romo Ansel.
Sementara hasil penjualan merchandise SVD berupa kaos, buku, dan rosario sebesar Rp 520.000. Bagi umat yang berminat, merchandise SVD masih tersedia di Komsos.
Pasar HPS telah usai. Semua umat yang hadir puas menikmati suguhan mamin berbahan pangan lokal. Panitia pun puas karena telah sukses menyelenggarakan kegiatan ini. Namun entah kita menyadari atau tidak, sesungguhnya kita tengah merayakan peminggiran pangan lokal. Karena kita mencintai pangan lokal hanya dalam sebuah momen seremoni bernama Pasar HPS, bukan dicetuskan dalam sebuah gerakan pembiasaan yang menumbuhkan kecintaan umat terhadap pangan lokal.
Karena seperti tahun-tahun sebelumnya, setelah pesta HPS usai, kita kembali asyik mencicipi suguhan mamin berbahan pangan impor di gerai-gerai yang berada di mal. Artinya, ajakan “Ayo Mencintai Pangan Lokal” tak lebih hanya sebuah slogan dan seremoni. Selebihnya pangan impor
setia menghuni memori kita.
(nn)
Share This Article :



